#Cerita Hari Ini! Manusia Berencana, Tuhan Penentu Keberhasilan

 #Cerita Hari Ini!.

Sudah 3 hari terlewati olehku di tempat lama yang sudah sulit kukenali. Pohon mangga yang dulunya menjadi pelindung terik matahari itu sudah lama tidak ada. Lubang-lubang kolam ikan itu juga sudah berubah bentuk menjadi 'prakarya' baru. 

Rutinitasku tiap kembali datang ke rumah adalah membersihkan sepetak kamar yang setidaknya masih menjadi kuasaku untuk menata dan menaruh barang sesuka hati. Bersamaan dengan debu-debu yang beterbangan ketika aku membersihkan kamar ini, aku menikmati dingin dan ironinya keadaan diri sendiri. 

Memilih keputusan untuk mencoba lagi datang meski tahu jika diri ini masih belum memiliki kekuatan untuk setidaknya mengatakan tidak pada hal sederhana yang ditawarkan. Keputusan yang terasa salah dijalani ketika pagi pertama menyapaku ini juga keputusan paling baik yang bisa diambil. Ironi sekali ketika aku mengatakan itu pada diri sendiri. 

"Keputusan ini terasa salah. Tapi juga ini yang paling bisa aku lakukan untuk sekarang." Kataku pada diri sendiri sambil menghitung 'prakarya' baru di sekitar rumah.

 "Kita kan bukan arsitek yang kerjaannya hanya sampai merencanakan. Rencana paling bagus pun tetap harus dicoba." Kata seorang ibu anak dua yang masih bisa diajak berbicara hingga larut malam. Entah atas nama menemaninya menyelesaikan cetakan cookies, mencuci botol ASI, atau sekedar membuat bumbu rendang untuk dipakai esok harinya. 

Rencana yang sudah dihitung untung ruginya ini pun nantinya diperlukan fleksibilitas dalam proses mengeksekusinya. Apalagi jika rencana tersebut banyak bersinggungan dengan faktor yang diluar kendali. 

Tiap harinya, tiap kita diuji fleksibelnya pikiran dan hati menghadapi kejutan kehidupan yang seringnya tidak pernah kita minta dan duga. Tentu saja itu datang dengan tiba-tiba. Tanpa aba-aba. Namanya saja kejutan. Reaksi kita juga biasanya adalah terkejut. Shock. Lalu, seorang bijak menasehati agar tetap tenang menghadapi segala yang datang pada hidup kita.

Tidak jarang aku terlihat diam, cenderung disebut orang sebagai orang yang tenang dalam menghadapi liku kehidupan. Tapi, seperti halnya orang lain yang berteriak atau membanting barang, aku juga menghujat semampu yang kubisa. Menghujat diri sendiri karena tidak berdaya di usia yang aku harapkan sudah berjaya. Menghujat orang tua yang meninggalkan banyak bekas luka. Menghujat teman yang bilang, "hanya dirinya sendiri yang bisa menolong dirinya" ketika dia melihat aku tidak berdaya. Menghujat penjual pecel lele yang menaikkan harga ayam dari yang sebelumnya sepuluh ribu hingga sekarang menjadi 14 ribu. Bahkan ada yang lebih dari itu. Semua hal aku hujat. Semampunya.

Setelah semua pihak mendapat giliran dihujat olehku tadi, mungkin aku sedikit bisa mengurangi rasa kecewa. Terkadang juga bisa menjadi bola salju yang membawaku makin tenggelam menyalahkan diri sendiri. 

Lalu, di tengah pelik itu muncul sedikit ingatan dari hati, "Manusia berencana, Tuhan penentu keberhasilan". Mau bagaimana lagi. Aku sekarang masih dalam bentuk manusia yang sangat mudah masuk ke dalam pusaran emosi negatif tentang diri sendiri, juga orang lain. Aku yang masih manusia ini juga masih belum bisa mati atas kehendak diri sendiri. Maka, sebagai manusia yang meyakini Tuhan adalah tempat bersandar dan tempat sadar ini menjadikan Tuhan sebagai penghibur hati yang pelik tadi.

Tulisan ini mungkin akan terasa sulit dipahami. Bahkan sulit juga untuk sekedar dinikmati. Karena aku menulisnya dengan perasaan yang sulit dimengerti. 

Semoga kamu yang membaca cerita tidak runut ini tetap mampu menghadapi hidup dengan patut.

 Photo by Adrien Olichon on Unsplash

 Selamat malam, Untukmu.

Yang selalu mencoba hidup.




Posting Komentar

0 Komentar