Mengapa orang yang beriman pada Tuhan itu selalu terlihat tenang bahkan ketika ombak datang?



Mengapa orang yang beriman pada Tuhan itu selalu terlihat tenang bahkan ketika ombak datang?
Berbicara tentang iman itu adalah keyakinan. Ia berada pada ranah konsep abstrak. Meskipun perjalanan sebab akibat (logika) pula yang membawa kita ke dalam tahap itu. Tapi sebab akibat yang sampai disebut iman adalah akhir yang sempurna untuk logika itu. 

Apakah akhir yang dimaksud itu adalah bentuk lain dari kematian logika?
Bukan. Iman tak membunuh logika hanya karena ia adalah akhir yang sempurna untuknya. Logika dan iman adalah sebuah jalan dan tujuan akhir tempat berpulang. 

Iman juga berada di ranah rasa. Yang benar-benar subjektif untuk didefinisikan. Disini pula letak alasannya. Kita dengan kesubjektifan masing-masing itu mencapai iman yang membawa kita pada Tuhan Yang Satu. 

Lalu, bagaimana kesubjektifan masing-masing yang riskan akan tergelincir pada tipu muslihat pikir itu bisa membawa yang masing-masing tadi pada Tuhan Yang Satu?
Agama. Islam. Adalah jalan yang dibawa, diperkenalkan, dan dijaga langsung oleh Tuhan untuk mengenal-Nya. Membawa kita pada-Nya. 

Dan topik utama dari pembicaraan ini adalah kata “Tuhan”. Tuhan. Yang tak akan pernah mampu untuk kita lihat melalui mata. Kita mengenal Tuhan dalam dan melalui hati, rasa, logika kita. Mereka mengajak kita yakin dan percaya Tuhan ada. 

 sumber gambar : http://www.4to40.com/wp-content/uploads/2016/06/A-Muslim-boy-walks-along-the-beach-ahead-of-Eid-al-Adha-in-Colombo.jpg

Ya. beriman pada Tuhan benar-benar berada pada ranah abstrak yang butuh kemampuan juga usaha untuk mencapainya. Bukan gelar atau waktu yang lama. Tapi kita berbicara rasa dan logika. Karenanya menjadikan orang yang mencapai tahapan ini tak lagi hanya melihat ombak, tapi tahu, yakin, dan percaya ada yang mengendalikan ombak.

Posting Komentar

0 Komentar